SEJARAH

Profil yayasan belum tersedia.

KH. Rivai Abdul Manap Nasution

Pendiri Taman Pendidikan Islam

Rivai Abdul Manap Nasution lahir di Kampung Amplas, Medan, tanggal 29 Juni 1922 ke dalam sebuah keluarga perantau. Orangtuanya—ayahnya Abdul Manap Nasution (w. 1943), ibunya Hj. Asmah Lubis—pindah ke Medan dari desa Cubadak Pasaman, wilayah perbatasan Sumatera Utara dan Sumatera Barat. Berbekal pendidikan SR (Sekolah Rakyat) sampai lulus kelas III, Abdul Manap bekerja sebagai mandor di sebuah perusahaan perhubungan Belanda yang berkantor di Medan Amplas. Tampaknya ia bergaul cukup luas dan mengenali beberapa tokoh Sarekat Islam dan tokoh komunis, sehingga ia mengetahui gerakan-gerakan sosial dan politik bangsa Indonesia ketika itu. Ia menamai anaknya Rivai karena kenal dengan seorang dokter yang sangat baik dengan nama itu (Kamaluddin, wawancara, 12 Juli 2010). Ayahnya memastikan Rivai mendapatkan pendidikan terbaik yang ada, dengan memadukan pendidikan umum dan agama. Ia bersekolah di sekolah Belanda. Pada saat yang sama ia juga mendapat pendidikan agama dari ayahnya dan dari Syekh Ja’far Hasan di Maktab Islamiyah Tapanuli, disingkat MIT (Tanjung, 2012). Ia belajar seni membaca Alquran kepada Ustaz Usman Fatah, yang berhasil mendidiknya menjadi seorang qari sekaligus seniman. Di Maktab Islamiyah Tapanuli (MIT) ini Rivai Abdul Manap Nasution mengikuti jenjang pendidikan hingga tingkat Qism al-‘Ali. Ia juga sempat terdaftar sebagai mahasiswa di Universitas Al Washliyah dan kemudian diselesaikan di Universitas Islam Sumatera Utara. Itulah mengapa ia pernah aktif dalam organisasi Al Washliyah yang didirikan oleh Ismail Banda, Abdurrahman Sjihab, M. Arsjad Thalib Lubis dan Yusuf Ahmad Lubis (Ja’far, 2020a; 2020b). Al Washliyah merupakan organisasi Islam yang menganut mazhab Syâfi‘i dan Ahlussunnahwaljamaah (Ja’far, 2016; 2019) Masuknya Jepang pada tahun 1942 membuat suasana menjadi kacau dan Rivai Abdul Manap Nasution menjadi bagian dari periode sejarah genting tersebut. Ia pernah tercatan menjadi anggota Laskar Pemuda Indonesia dan menjadi pemimpinnya untuk daerah Amplas Medan (Kamaluddin, wawancara, 12 Juli 2010). Selama berjuang ia berpindah-pindah tempat sesuai dengan kebutuhan. Ketika kondisi sudah mulai kondusif, pada tahun 1948 Rivai Abdul Manap Nasution kembali menetap di Medan. Meskipun ditawari untuk terus menjadi tentara, ia memilih untuk menekuni perjuangannya di sektor sipil, khususnya pendidikan. Namun demikian ia tetap merupakan sosok yang dikenal akrab di kalangan tentara. Dalam bidang politik, ia berafiliasi dengan Golkar. Ini membedakannya dengan banyak ulama terutama Al Washliyah yang berafiliasi dengan Partai Persatuan Pembangunan (PPP) dan sebelumnya dengan Partai Masjumi (Ja’far, 2019). Pada tanggal 1 Mei 1950 didirikanlah Taman Pendidikan Islam (TPI) sebagai upaya mengisi kemerdekaan ini dan memajukan pendidikan khususnya dalam bidang agama. Ia membesarkan dan menjadi Ketua Umum TPI hingga akhir hidupnya (Danial, wawancara, 31 Januari 2010). Di samping TPI, ia juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial, politik, keagamaan, dan seni budaya. Ia Islamijah: Journal of Islamic Social Sciences, Volume 1, Number 2, May 2020: 177-198 181 pernah menjadi pengurus Al Jam’iyatul Washliyah, Wakil Sekretaris MUI Sumatera Utara, Dewan Hakim MTQ, Anggota Pimpinan GUPPI Tingkat I Sumatera Utara, Pengawas Pendidikan Islam, Anggota Sekber-Golkar Sumatera, Anggota DPRD Kota Medan dan DPRD Provinsi Sumatera Utara. Di sisi lain, ia juga adalah seorang pencipta lagu dan pemain Orkes El-Kawakib. Dengan segala aktivitasnya tersebut ia dianugerahi berbagai penghargaan oleh negara maupun badan/organisasi masyarakat (Keluarga Besar K.H. Rivai Abdul Manap Nasution [KBRAMN], 1999, h. 2). Dalam kehidupan keluarga, Rivai Abdul Manap menikah dengan Hj. Zahara Nasution dan kemudian Hj. Maskiyah Pulungan dan dianugerahi 7 (tujuh) orang putra dan putri, yakni Hj. Faridah Nasution, S.Ag; Prof. H. Ismet Daniel Nasution, drg, Ph.D; Hj. Aisyah Nasution; Hj. Ratna Balqis Nasution, SE, MBA; H. Ikrom Helmi Nasution, SH; Ir. H. Rizal Fahmi Nasution; dan Dr. H. Khairul Alwan Nasution, MM, MBA; seluruhnya dari Hj Maskiyah (KBRAMN, 1999, h. 2). Putra dan putrinya tampaknya menerima titisan darah pejuang dari orang tuanya, dan semuanya terdidik dan berhasil dalam bidang kehidupannya masing-masing. Setelah membaktikan hidupnya dalam berbagai bidang kehidupan, Rivai Abdul Manap Nasution berpulang ke rahmatullâh pada usia 67 tahun pada hari Senin tanggal 31 Juli 1989, dikebumikan pekuburan Keluarga Muslim Amplas Medan (Ikrom Helmi, wawancara, 15 April 2010).

Struktur Organisasi

Prof. drg. Ismet Danial Nasution, Ph.D., Sp.Pros., Subsp.PKIKG(K)

Ketua Umum Pimpinan Pusat Taman Pendidikan Islam


H. Ikrom Helmi Nasution, SH

Ketua II PLT Ketua I

Drs. H. Ahmad Suhaimi, SH

Sekretaris Umum

Dr. H. Yose Rizal, S. Ag, MM

Wakil Sekretaris PLT. Bendahara

Rubianto, M. Kom

Kabag. Sekretariat

Taman Pendidikan Islam Medan
Menu Cepat
Kontak


(061) 7861203, 7878856
✉ www.mts.tpimedan.sch.id

Lokasi
Jalan Sisingamangaraja Km. 7 No. 5 Medan Kelurahan / Kec. Harjosari-I / Medan Amplas Kab/Kota M e d a n Provinsi Sumatera Utara